Header Ads

Darul Falah Besongo Tegaskan Pesantren Sebagai Pusat Perdamaian

KH Imam Taufiq memberikan sambutan selaku pengasuh pesantren
Semarang, PecintaUlama.ID - Tugas profetik yang diemban ulama sesuai dengan hadits populer "Al-Ulama Waratsatu Al-Anbiya" berat untuk dilaksanakan, tak sembarang orang mampu mengerjakannya. Namun, tugas mulia ini harus menjadi tanggung jawab ulama. Salah satu tugas itu adalah menjadi penjaga perdamaian.

Hal ini menjadi alasan mengapa haflah dan akhirussanah Pesantren Darul Falah Besongo mengangkat tema "Meneruskan Estafet Perjuangan Ulama dengan Perdamaian". Bertempat di halaman musholla Raudlatul Jannah, pengasuh pesantren Darul Falah Besongo, KH Imam Taufiq mewisuda 34 santri putri. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (12/5).

Ritual tahunan seperti ini memang menjadi kekhasan pesantren di Indonesia. Dalam konteks ini, respon Pesantren Besongo adalah merespon hal kekinian yang sedang terjadi dan dibuktikan dengan tema yang diangkat pada haflah kali ini. Melalui pemilihan tema ini, sebenarnya panitia ingin menampilkan wajah santri yang mampu menghadirkan kedamaian, kenyamanan, keamanan, keselamatan adem ayem (tenang dan tentram) di bumi ini. Hal ini sangat relevan dengan visi yang diusung pesantren yaitu "Berakhlak Mulia dengan Kompetensi Keagamaan dan Kecakapan Hidup yang Andal".

Teroris sejatinya tidak mungkin lahir dari agama apapun, tetapi adanya dari pikiran yang rusak, hati yang keras, dan jiwa yang ingin menang sendiri (Al-Irhabu La Yumkinu An Yakuna Walid Al-Adyan Wainnama Huwa Walidun Aqliyyatun Fasidatun Waqulubun Qasiyah Wanufusun Mutakabbirah). Pernyataan ini penting untuk menggaris bawahi bahwa terorisme bukan bagian dari agama yang mengedepankan keramahan dan kesantunan.
KH Nawawi At-Tamjani memberikan mauidhoh hasanah
Hadir dalam acara ini KH Nawawi at-Tamjani untuk memberikan mauidhoh hasanah. Ia menyampaikan bahwa sebagai muslim perlu memiliki tiga ras.

"Ras pertama adalah waras. Kewarasan akal dan badan menjadi penting untuk dijaga agar mampu berkelakuan dengan kesehatan logika. Ras kedua yaitu yang mampu mencari beras. Ras yang ketiga yakni semangat dan kerja keras," jelasnya.

Hal ini merupakan landasan penting dalam mengambil inti sari dari al-Mujadilah ayat ke 11. Di sini terdapat penjelasan bahwa untuk meraih dan mendapatkan derajat yang tinggi, seseorang perlu proses panjang untuk mencapainya. Dari semua hal itu, yang terpenting adalah proses untuk beriman dan memiliki ilmu. Itulah mengapa dalam teksnya kata "darajat" ditaruh diakhir, ini menunjukkan bahwa derajat yang kita dapatkan dalam akhir proses. Selain itu, Kiai Nawawi mendoakan agar alumni menjadi sosok penebar damai.

"Tradisi musawah (kesetaraan) penting dihadirkan di dunia dengan adanya kebersamaan dimulai dari kita (pondok pesantren) sendiri," tegas Kiai Taufiq.
Hj Arikhah selaku pengasuh mewisuda 34 santri putri
Kesetaraan menjadi pondasi penting untuk membangun komunikasi di masyarakat. Tradisi ini sedari awal ditanamkan di pesantren. Pesantren yang memiliki 350 santri putra-putri ini mengajarkan kesamaan kitab, tema dan isu yang sama, pengurus kombinasi antara laki-laki dan perempuan serta hal-hal lainnya. Musawah ini harus menjadikan kesetaraan menjadi kebersamaan. Sehingga nantinya santri ketika pulang menjadi muslim yang mampu menjaga saudara (muslim)nya dan selamat atas ucapan serta tindakannya. [Zulfa/PecintaUlana.ID]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.