Header Ads

Ini Delapan Langkah Menjadi Santri yang Baik

Kiri-Kanan: KH M Arja Imroni (Sekretaris PWNU Jateng), KH Abu Rokhmad (MUI Jateng), dan Jamal Makmur Asmani (Penulis)
Semarang, PecintaUlama.ID - Sebutan kiai menjadi penanda penting bagi kehidupan keislaman di Jawa bahkan Indonesia. Mereka ini penjaga gawang moral beragama dan berbangsa. Jamal Makmur Asmani mengategorikan menjadi tiga bagian, ulama lentera hati, sang pencerah hati dan sang pencerah gagasan. Gagasan ini ditulis dalam buku berjudul "Mereguk Kearifan Para Kiai".

Sabtu (15/4) Pengurus Wilayah Rabithah Ma'ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Jawa Tengah melakukan bedah buku ini bersama sekretaris PWNU Jateng, KH M Arja Imroni dan KH Abu Rokhmad dari MUI Jateng. Jamal Makmur Asmani yang merupakan penulis buku turut hadir dalam kegiatan ini.

Buku ini menjadi penting ditulis untuk memberikan inspirasi bagi generasi muda sebab agar bisa meneladani tokoh-tokoh yang dihaturkan. Jamal memberikan argumentasi kenapa buku ini hadir, menurutnya seorang kiai harus memiliki kapasitas keilmuan yang bagus di mata masyarakat.

"Bahwa seorang kiai maupun ulama harus memiliki kapasitas keilmuan yang bagus dan mampu membuka mata hati santrinya. Kedua, memiliki kemauan dan kemampuan untuk berijtihad dalam mencari ilmu," tegasnya.

Kiai Arja mengapresiasi atas terbitnya buku ini, secara garis besar beliau mengungkapkan kiai-kiai yang ada ini mereka menghormati kearifan lokal, memiliki pengetahuan keagamaan baru berdakwah, berhati-hati dalam mengambil keputusan hukum dan tradisi saling menghormati antar kiai. Selain itu, Kiai Arja mengingatkan bahwa sekarang ini santri banyak yang meninggalkan cara menjadi seorang murid yang baik.

Ada delapan cara menjadi santri yang baik. Pertama adalah menjadi pendengar dengan sungguh-sungguh dan baik (istima'). Kedua, menerima apa yang ditangkap (qobul). Ketiga, mampu mengidentifikasi perkara (tashawwur).

Keempat adalah memiliki kemampuan memahami perkara (tafahhum). Kelima sanggup menerangkan sebuah masalah (ta'lil). Keenam bisa mencari dalil sendiri (istidlal). Selanjutnya sanggup mengerjakan ilmu (amal), dan terakhir adalah mampu menyebarkan ilmunya (an-nasyr).

Kiai Abu Rokhmad menyeritakan bahwa kiai-kiai kuno itu selalu mendoakan santri-santrinya. Begitu pula dengan tokoh-tokoh yang ada dalam buku ini. Dalam bahasa pesantren terdapat hubungan hati yang kuat (alaqah batiniyyah). Dalam buku ini baiknya kiai-kiai yang dikenal secara nasional penting kita dokumentasikan selain itu perlu juga ada kiai-kiai kampung yang perlu diabadikan.

"Setiap zaman ada kiainya dan setiap kiai ada zamannya," tegas Kiai Abu Rohmad.

Bahwa kiai memiliki kekhasan masing-masing yang berbeda dengan satu dengan yang lainnya. Beliau-beliau ini memiliki dimensi yang tak bisa diperkirakan para santrinya. Bisa jadi kontribusi dan gagasannya sesuai zaman dan tempatnya yang tak bisa dibandingkan satu dengan yang lain.

Jamal Makmur yang juga aktif di Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) berpesan pada hadirin. Bahwa menulislah secara mengalir. Buku ini memang tak akan pernah habis kekurangannya.

"Yang penting ditulis terlebih dahulu. Akan tetapi bahan baku (referensi) harus berkualitas," pungkas Jamal. [*]

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.